Jumat, 01 Mei 2026

i s l a m

islãm adalah SISTEM NILAI yang MENYELURUH dan TERPADU


Hal terkuat yang menggerakkan saya menulis tema ini adalah bahwa akhir-akhir ini begitu banyak fakta yang muncul ke permukaan, secara publik ke seluruh dunia, bahwa satu-satunya negara sekarang ini yang menyelenggarakan kehidupan ber-bangsa dan ber-negara dengan berpedoman pada Al-Qur’ãn, adalah Republik Islam Iran. Dan, kehidupan di negeri ini berjalan, berkelanjutan, sesuai Sunnatullah, walaupun begitu banyak tekanan dan serangan dari musuh-musih islam, selama hampir lima dekade.

Saya sadar bahwa hal ini adalah konfirmasi yang sangat kuat bahwa muatan Al-Qur’ãn bukan main-main, apalagi dongeng orang-orang dahulu, bukan sebagaimana yang dianggapkan oleh kebanyakan orang di zaman sekarang ini.

Pada dasarnya dan pada awalnya, seluruh Alam Semesta ini adalah islam. Makna 'islam' secara universal dan inklusif adalah berserah diri dan tunduk patuh pada aturan Allâh alias Sunnatullah alias Hukum Alam.

اَفَغَيۡرَ دِيۡنِ اللّٰهِ يَبۡغُوۡنَ وَلَهٗۤ اَسۡلَمَ مَنۡ فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّكَرۡهًا وَّاِلَيۡهِ يُرۡجَعُوۡنَ‏

Maka mengapa mereka mencari 'agama' eh 'dïn' (sistem) yang lain selain sistem Allâh, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri (aslama) kepada-Nya (baik) dengan sukarela maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?

QS. Ali-Imran/3:83


Berikut adalah beberapa ayat terkait lainnya:

QS. Al-Anbiyã'/21:30

QS. Al-Dzãriyat/51:47

QS. Al-A'rãf/7:54

QS. Ar-Ra'd/13:15

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa secara takwini (fitrah penciptaan), alam semesta beserta hukum fisika yang mengaturnya sudah berserah diri (islam) kepada aturan Allah (Sunnatullah).

Sebagaimana yang saya ungkapkan pada tulisan sebelumnya di blog pribadi ini, tentang HIJÃB, KHIMÃR, dan JILBÃBbahwa:

Al-Qur'an adalah hudan li an-nãs; Artinya, al-Qur'an adalah petunjuk bagi semua dan setiap insãn, petunjuk bagi setiap individu, sebagaimana 'manual' bagi penggunaan dan pemeliharaan Diri kita masing-masing; dan

Al-Qur'an adalah Syifã'ulinnãs, alias penyehat bagi manusia, maka pesan dalam setiap ayat al-Qur'an terutama ditujukan bagi jiwa kita, karena yang paling menentukan kesehatan holistik kita sebagai Manusia adalah keadaan JIWA kita.


MAYORITAS PEMELUK AGAMA ISLAM TIDAK BERILMU

Al-Qur’ãn mengajarkan agar manusia menjadi cerdas dan berilmu, sehingga sesuatu yang diyaqini bukan sekadar diyaqini semata, tapi bahwa kebenarannya dapat dibuktikan dengan logika dan pengalaman.

Tapi, mengapa kita di Indonesia yang mayoritas beragama Islam bisa terpuruk sebagai bangsa yang terbelakang, diberati dengan hutang luar negeri yang begitu besar padahal kondisi Alam dan geografi-nya pada awalnya begitu kaya? Kebanyakan warga-nya menjadi budak di negeri lain, maupun di negeri sendiri? Apa yang salah dalam kita ber-agama?

Menurut pengamatan dan pengalaman pribadi saya, orang-orang di Indonesia ini, baik pemerintah-nya maupun masyarakat-nya tidak menempatkan Al-Qur’ãn sebagai pedoman utama dalam menjalani dan menjalankan kehidupan. Walaupun slogan “Umat Islam berpegang pada Al-Qur’ãn dan Al-Hadits” senantiasa ditenorkan pada ceramah-seramah di masjid-masjid, maupun di madrasah-madrasah, tapi justru slogan ini membuat posisi Al-Qur’ãn menjadi lemah bahkan terabaikan, karena ada aturan bahwa kebenaran Islam itu harus merujuk, pertama-tama pada fatwa ulama, kemudian pada apa yang mereka sebut ‘Al-Hadits’, dan baru kemudian Al-Qur’ãn.

Saya beruntung, karena pernah serius belajar pada Bang Imad. Kata beliau, rujukan kita dalam menemukan dan menyadari kebenaran adalah pertama-tama pada Al-Qur’ãn, kemudian pada Al-Qur’ãn, dan kemudian Al-Qur’ãn.

Kembali ke kondisi umum umat Islam. Jika pun, akhirnya orang-orang membuka dan membaca, serta mengkaji Al-Qur’ãn, mereka sekadar mengikuti terjemahan yang menganggap Al-Qur’ãn adalah Bahasa bangsa ‘Arab. Seolah-olah Al-Qur’ãn adalah buku ber-bahasa asing yang perlu diterjemahkan dari Bahasa ‘Arab ke Bahasa Indonesia. Padahal, Al-Qur’ãn adalah Kitab Suci dengan Bahasa Rabb, yakni Bahasa Ilahi, yang hanya bisa dipahami jika Qalbu kita berfungsi.


PETUNJUK BAGI SEMUA MANUSIA

Jika  Al-Qur’ãn adalah petunjuk bagi manusia, maka tidaklah adil jika manusia tidak diberikan kemampuan untuk membacanya. Allah pasti telah memberikan kemampuan kepada semua dan setiap manusia untuk hal ini, dan kemampuan ini ada pada diri manusia sendiri, bukan di luar diri. Dan, Al-Qur’ãn diturunkan bukan untuk pola pikir orang ‘Arab ataupun dalam konteks bagaimana orang ‘Arab berpikir, tetapi untuk semua manusia, dan untuk menjawab setiap problem semua manusia.

Al-Qur’ãn diturunkan/diwahyukan serta disusun menjadi mushaf, benar-benar dengan perhitungan yang teliti dan presisi sebagai suatu sistem yang menyeluruh dan terpadu.

Secara kronologis, surah pertama yang diwahyukan adalah Al-‘Alaq alias Iqra’ dan surah terakhir yang diwahyukan adalah Al-Nashr. Secara susunan mushaff, surah pertama adalah Al-Fãtihah, dan surah terakhir adalah Al-Nãs. Ada 114 surah dalam 30 jus, dengan urutan yang secara numerology juga memiliki makna yang sinkron dengan nama setiap surah-nya, maupun keterkaitannya dengan surah-surah lainnya.

Ayat pertama yang diturunkan adalah tuntunan dan tuntutan untuk IQRA’ (membaca, mengamati, memperlajari, dan memahami) fenomena Alam. Untuk ayat terakhir yang diwahyukan, ada beberapa pendapat, namun setelah saya kaji dan renungkan, mungkin yang paling mendekati kebenaran yang haq adalah ayat ke-278 sampai dengan ayat ke-282, yaitu tentang larangan riba. Dari kelima ayat tentang larangan riba ini, ayat ke-281 adalah yang sangat tegas mengemukakan bahwa Allâh dan sistem Allâh adalah adil.

وَاتَّقُوۡا يَوۡمًا تُرۡجَعُوۡنَ فِيۡهِ اِلَى اللّٰهِ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفۡسٍ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُوۡنَ

Dan bertaqwalah pada hari (ketika) kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizhalimi /dirugikan.

QS. Al Baqarah/2:281

 

SISTEM ALLÂH

Dïnullâh (Sistem Allâh): Merujuk pada aturan/tatanan/sistem yang diakui dan diridhoi Allâh, lihat QS. Ali 'Imran ayat 19.

Dïnul Haqq (Sistem yang Benar): Islam sebagai sistem yang benar dan tegak, sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 29.

Ad-Dïin:

Kata ad-Dïn secara umum dalam Al-Qur'an sering kali bermakna ketaatan, peribadatan, pelayanan, dan sistem hidup yang menyeluruh (keyakinan, akhlak, amal perbuatan).

Kata ad-Dïn secara umum dalam Al-Qur'an sering kali bermakna ketaatan, peribadatan, pelayanan, dan sistem hidup dengan nilai-nilai luhur universal, sistem yang seimbang/adil, terpadu, dan menyeluruh (cara berfikir, keyaqinan, perilaku, akhlaq, amal perbuatan).

Karakteristik Utama Dinullâh

Rabbani:

Sumber hukum dan aturannya murni wahyu Allâh,  bukan hasil pemikiran manusia, terlebih bukan pula pesan berantai. Dan wahyu Allâh yang dijamin (oleh Allâh) terpelihara kemurnian-nya adalah Al-Qur'ãn.

Syamil (menyeluruh dan terpadu):

Meliputi seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, muamalah, maupun akhlak.

Satu-satunya sistem kehidupan yang Diridhoi: islam ditegaskan sebagai satu-satunya sistem atau tatanan kehidupan yang diterima di sisi Allâh.


BERKAH TERSELUBUNG

Sejak Iran berubah status dari Negara monarki menjadi Republik Islam Iran pada tahun 1979, rezim Amerika Serikat menekan dan menyerang dengan segala cara. Alih-alih tunduk dan menyerahkan kedaulatan, Republik Islam Iran dapat bertahan, dan bertumbuh semakin mandiri, semakin kuat, dan semakin maju di hampir semua aspek kehidupan.

Ada banyak aspek kehidupan di negeri Republik Islam Iran, yang bisa kita temukan, sangat sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Hal yang paling menonjol adalah ke-adil-an bagi semua manusia dan makhluq-makhluq lainnya, antara lain:

1.      Para pemimpin dan pejabat negara hidup sederhana, bahkan pemimpin tertinggi (Rahbar) dan keluarganya menjalani kehidupan sesederhana warga mereka yang paling rendah dalam aspek kekayaan material;

2.      Kebutuhan dasar (air bersih, air layak diminum, listrik, gas) bagi setiap keluarga disediakan secara layak dengan biaya yang sangat rendah.

3.      Pendidikan di semua level gratis;

4.      Ada banyak taman publik;

5.      Ada sistem angkutan umum masal yang bagus;

6.      Ada santunan bagi keluarga setiap pejuang yang tewas/syahid dalam membela negara dan islam;

7.      Ada keberagaman agama dan keyaqinan, yang para pemeluknya dapat hidup rukun;

8.      Kebersihan di ruang-ruang public;

9.      Tidak ada pengemis dan gelandangan.

Dari sekian banyak aspek kehidupan yang dijalankan dengan prinsip keadilan, di kesempatan ini, saya cukup menyoroti aspek pendidikan.

Pendidikan di Iran dijamin oleh pemerintah dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi (universitas) negeri. Konstitusi Iran menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warga negaranya. Berikut adalah hal-hal penting mengenai pendidikan gratis di Iran berdasarkan informasi tahun 2025-2026:

Tingkat Pendidikan:

Pendidikan gratis tersedia mulai dari pra-sekolah, sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas, hingga universitas negeri.

Wajib Belajar:

Pendidikan dasar hingga menengah (usia sekolah dasar hingga menengah) diwajibkan dan digratiskan oleh pemerintah.

Pendidikan Tinggi:

Universitas negeri di Iran tidak memungut biaya kuliah bagi warga negara yang lulus seleksi, bahkan seringkali menyediakan beasiswa penuh.

Qualitas dan Akses:

Meskipun gratis, standar pendidikan di Iran dianggap tinggi. Pemerintah terpusat mengelola kurikulum dan fasilitas sekolah.

Sekolah Swasta:

Selain sekolah negeri gratis, tersedia juga sekolah swasta yang memungut biaya sendiri.

Mahasiswa Asing:

Iran juga menyediakan opsi beasiswa penuh bagi mahasiswa asing di universitas-universitas negeri mereka.

Sistem ini didanai penuh oleh pemerintah Iran sebagai bagian dari jaminan sosial bagi masyarakatnya.

 

Ada sesuatu di dalam Diri saya ini yang tidak henti-henti-nya mengingatkan, agar saya mendukung perjuangan para pemimpin dan rakyat Republik Islam Iran, dengan cara apapun yang bisa saya upayakan. Maka selain ber-do’a dengan melantunkan firman-firman Allâh secara intensif, saya juga ikut dalam perang narasi di media social, dan ini, suatu artikel berjudul “islam”.

Sengaja saya menggunakan insial dan seluruh huruf-nya dengan huruf kecil, untuk membedakan dengan “Islam” sebagai agama yang konvensional, dan membuat kita kurang cerdas, dan terkungkung dalam aturan yang sempit, kaku, dan tidak universal.


#nitasung

Desa Mengwitani, Bali, Jum'at Pon, 14 Dzul-Qa'idah1447 / 1 Mei 2926


Tidak ada komentar:

Posting Komentar