islãm adalah SISTEM NILAI yang MENYELURUH dan TERPADU
Hal terkuat yang menggerakkan saya menulis tema ini adalah bahwa akhir-akhir ini begitu banyak fakta yang muncul ke permukaan, secara publik ke seluruh dunia, bahwa satu-satunya negara sekarang ini yang menyelenggarakan kehidupan ber-bangsa dan ber-negara dengan berpedoman pada Al-Qur’ãn, adalah Republik Islam Iran. Dan, kehidupan di negeri ini berjalan, berkelanjutan, sesuai Sunnatullah, walaupun begitu banyak tekanan dan serangan dari musuh-musih islam, selama hampir lima dekade.
Saya sadar bahwa hal ini adalah konfirmasi
yang sangat kuat bahwa muatan Al-Qur’ãn bukan main-main, apalagi dongeng
orang-orang dahulu, bukan sebagaimana yang dianggapkan oleh kebanyakan orang di
zaman sekarang ini.
Pada dasarnya dan pada awalnya, seluruh
Alam Semesta ini adalah islam. Makna 'islam' secara universal dan inklusif
adalah berserah diri dan tunduk patuh pada aturan Allâh alias Sunnatullah alias
Hukum Alam.
اَفَغَيۡرَ دِيۡنِ اللّٰهِ يَبۡغُوۡنَ وَلَهٗۤ
اَسۡلَمَ مَنۡ فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّكَرۡهًا وَّاِلَيۡهِ يُرۡجَعُوۡنَ
Maka mengapa mereka mencari 'agama' eh
'dïn' (sistem) yang lain selain sistem Allâh, padahal apa yang di langit dan di
bumi berserah diri (aslama) kepada-Nya (baik) dengan sukarela maupun terpaksa,
dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?
QS. Ali-Imran/3:83
Berikut adalah beberapa ayat terkait
lainnya:
QS. Al-Anbiyã'/21:30
QS. Al-Dzãriyat/51:47
QS. Al-A'rãf/7:54
QS. Ar-Ra'd/13:15
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa secara
takwini (fitrah penciptaan), alam semesta beserta hukum fisika yang mengaturnya
sudah berserah diri (islam) kepada aturan Allah (Sunnatullah).
Sebagaimana yang saya ungkapkan pada tulisan sebelumnya di blog pribadi ini, tentang HIJÃB, KHIMÃR, dan JILBÃB, bahwa:
Al-Qur'an adalah hudan li an-nãs; Artinya,
al-Qur'an adalah petunjuk bagi semua dan setiap insãn, petunjuk bagi setiap
individu, sebagaimana 'manual' bagi penggunaan dan pemeliharaan Diri kita
masing-masing; dan
Al-Qur'an adalah Syifã'ulinnãs, alias
penyehat bagi manusia, maka pesan dalam setiap ayat al-Qur'an terutama
ditujukan bagi jiwa kita, karena yang paling menentukan kesehatan holistik kita
sebagai Manusia adalah keadaan JIWA kita.
MAYORITAS PEMELUK AGAMA ISLAM TIDAK BERILMU
Al-Qur’ãn mengajarkan agar manusia menjadi cerdas dan berilmu, sehingga
sesuatu yang diyaqini bukan sekadar diyaqini semata, tapi bahwa kebenarannya
dapat dibuktikan dengan logika dan pengalaman.
Tapi, mengapa kita di Indonesia yang
mayoritas beragama Islam bisa terpuruk sebagai bangsa yang terbelakang, diberati
dengan hutang luar negeri yang begitu besar padahal kondisi Alam dan
geografi-nya pada awalnya begitu kaya? Kebanyakan warga-nya menjadi budak di negeri lain, maupun di negeri sendiri? Apa yang salah dalam kita ber-agama?
Menurut pengamatan dan pengalaman pribadi
saya, orang-orang di Indonesia ini, baik pemerintah-nya maupun masyarakat-nya
tidak menempatkan Al-Qur’ãn sebagai pedoman utama dalam menjalani dan
menjalankan kehidupan. Walaupun slogan “Umat Islam berpegang pada Al-Qur’ãn dan Al-Hadits” senantiasa ditenorkan pada
ceramah-seramah di masjid-masjid, maupun di madrasah-madrasah, tapi justru
slogan ini membuat posisi Al-Qur’ãn menjadi lemah bahkan terabaikan, karena ada
aturan bahwa kebenaran Islam itu harus merujuk, pertama-tama pada fatwa ulama,
kemudian pada apa yang mereka sebut ‘Al-Hadits’, dan baru kemudian Al-Qur’ãn.
Saya beruntung, karena pernah serius belajar pada Bang Imad. Kata beliau, rujukan kita dalam menemukan dan menyadari kebenaran adalah pertama-tama pada Al-Qur’ãn, kemudian pada Al-Qur’ãn, dan kemudian Al-Qur’ãn.
Kembali ke kondisi umum umat Islam. Jika pun, akhirnya orang-orang membuka dan membaca, serta mengkaji Al-Qur’ãn, mereka sekadar mengikuti terjemahan yang menganggap Al-Qur’ãn adalah Bahasa bangsa ‘Arab. Seolah-olah Al-Qur’ãn adalah buku ber-bahasa asing yang perlu diterjemahkan dari Bahasa ‘Arab ke Bahasa Indonesia. Padahal, Al-Qur’ãn adalah Kitab Suci dengan Bahasa Rabb, yakni Bahasa Ilahi, yang hanya bisa dipahami jika Qalbu kita berfungsi.
PETUNJUK BAGI SEMUA MANUSIA
Jika
Al-Qur’ãn adalah
petunjuk bagi manusia, maka tidaklah adil jika manusia tidak diberikan
kemampuan untuk membacanya. Allah pasti telah memberikan kemampuan kepada semua
dan setiap manusia untuk hal ini, dan kemampuan ini ada pada diri manusia
sendiri, bukan di luar diri. Dan, Al-Qur’ãn diturunkan bukan untuk pola pikir orang ‘Arab ataupun dalam
konteks bagaimana orang ‘Arab berpikir, tetapi untuk semua manusia, dan untuk
menjawab setiap problem semua manusia.
Al-Qur’ãn diturunkan/diwahyukan serta disusun menjadi mushaf, benar-benar dengan perhitungan yang teliti dan presisi sebagai suatu sistem yang menyeluruh dan terpadu.
Secara kronologis, surah pertama yang
diwahyukan adalah Al-‘Alaq alias Iqra’ dan surah terakhir yang diwahyukan
adalah Al-Nashr. Secara susunan mushaff, surah pertama adalah Al-Fãtihah, dan
surah terakhir adalah Al-Nãs. Ada 114 surah dalam 30 jus, dengan urutan yang
secara numerology juga memiliki makna yang sinkron dengan nama setiap
surah-nya, maupun keterkaitannya dengan surah-surah lainnya.
Ayat pertama yang diturunkan adalah
tuntunan dan tuntutan untuk IQRA’ (membaca, mengamati, memperlajari, dan
memahami) fenomena Alam. Untuk ayat terakhir yang diwahyukan, ada beberapa
pendapat, namun setelah saya kaji dan renungkan, mungkin yang paling mendekati
kebenaran yang haq adalah ayat ke-278 sampai dengan ayat ke-282, yaitu tentang
larangan riba. Dari kelima ayat tentang larangan riba ini, ayat ke-281 adalah
yang sangat tegas mengemukakan bahwa Allâh dan sistem Allâh adalah adil.
وَاتَّقُوۡا يَوۡمًا تُرۡجَعُوۡنَ فِيۡهِ اِلَى
اللّٰهِ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفۡسٍ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُوۡنَ
Dan bertaqwalah pada hari (ketika) kalian
semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang
sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizhalimi /dirugikan.
QS. Al Baqarah/2:281
SISTEM ALLÂH
Dïnullâh
(Sistem Allâh): Merujuk pada aturan/tatanan/sistem
yang diakui dan diridhoi Allâh, lihat QS. Ali 'Imran ayat 19.
Dïnul Haqq
(Sistem yang Benar): Islam sebagai sistem yang benar dan tegak, sebagaimana
disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 29.
Ad-Dïin:
Kata ad-Dïn secara umum dalam Al-Qur'an
sering kali bermakna ketaatan, peribadatan, pelayanan, dan sistem hidup yang
menyeluruh (keyakinan, akhlak, amal perbuatan).
Kata ad-Dïn secara umum dalam Al-Qur'an
sering kali bermakna ketaatan, peribadatan, pelayanan, dan sistem hidup dengan
nilai-nilai luhur universal, sistem yang seimbang/adil, terpadu, dan menyeluruh
(cara berfikir, keyaqinan, perilaku, akhlaq, amal perbuatan).
Karakteristik Utama Dinullâh
Rabbani:
Sumber hukum dan aturannya murni wahyu Allâh, bukan hasil pemikiran manusia, terlebih bukan
pula pesan berantai. Dan wahyu Allâh yang dijamin (oleh Allâh) terpelihara
kemurnian-nya adalah Al-Qur'ãn.
Syamil (menyeluruh dan terpadu):
Meliputi seluruh aspek kehidupan, baik
ibadah, muamalah, maupun akhlak.
Satu-satunya sistem kehidupan yang
Diridhoi: islam ditegaskan sebagai satu-satunya sistem atau tatanan kehidupan
yang diterima di sisi Allâh.
BERKAH TERSELUBUNG
Sejak Iran berubah status dari Negara
monarki menjadi Republik Islam Iran pada tahun 1979, rezim Amerika Serikat
menekan dan menyerang dengan segala cara. Alih-alih tunduk dan menyerahkan
kedaulatan, Republik Islam Iran dapat bertahan, dan bertumbuh semakin mandiri,
semakin kuat, dan semakin maju di hampir semua aspek kehidupan.
Ada banyak aspek kehidupan di negeri Republik Islam Iran, yang bisa kita temukan, sangat sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Hal yang paling menonjol adalah ke-adil-an bagi semua manusia dan makhluq-makhluq lainnya, antara lain:
1.
Para pemimpin dan pejabat
negara hidup sederhana, bahkan pemimpin tertinggi (Rahbar) dan keluarganya
menjalani kehidupan sesederhana warga mereka yang paling rendah dalam aspek
kekayaan material;
2.
Kebutuhan dasar (air bersih, air
layak diminum, listrik, gas) bagi setiap keluarga disediakan secara layak
dengan biaya yang sangat rendah.
3.
Pendidikan di semua level
gratis;
4.
Ada banyak taman publik;
5.
Ada sistem angkutan umum masal
yang bagus;
6.
Ada santunan bagi keluarga
setiap pejuang yang tewas/syahid dalam membela negara dan islam;
7.
Ada keberagaman agama dan
keyaqinan, yang para pemeluknya dapat hidup rukun;
8.
Kebersihan di ruang-ruang public;
9. Tidak ada pengemis dan gelandangan.
Dari sekian banyak aspek kehidupan yang
dijalankan dengan prinsip keadilan, di kesempatan ini, saya cukup menyoroti aspek pendidikan.
Pendidikan di Iran dijamin oleh pemerintah
dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi (universitas) negeri. Konstitusi
Iran menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warga negaranya. Berikut adalah hal-hal
penting mengenai pendidikan gratis di Iran berdasarkan informasi tahun
2025-2026:
Tingkat Pendidikan:
Pendidikan gratis tersedia mulai dari
pra-sekolah, sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas, hingga universitas
negeri.
Wajib Belajar:
Pendidikan dasar hingga menengah (usia
sekolah dasar hingga menengah) diwajibkan dan digratiskan oleh pemerintah.
Pendidikan Tinggi:
Universitas negeri di Iran tidak memungut
biaya kuliah bagi warga negara yang lulus seleksi, bahkan seringkali
menyediakan beasiswa penuh.
Qualitas dan Akses:
Meskipun gratis, standar pendidikan di Iran
dianggap tinggi. Pemerintah terpusat mengelola kurikulum dan fasilitas sekolah.
Sekolah Swasta:
Selain sekolah negeri gratis, tersedia juga
sekolah swasta yang memungut biaya sendiri.
Mahasiswa Asing:
Iran juga menyediakan opsi beasiswa penuh
bagi mahasiswa asing di universitas-universitas negeri mereka.
Sistem ini didanai penuh oleh pemerintah
Iran sebagai bagian dari jaminan sosial bagi masyarakatnya.
Ada sesuatu di dalam Diri saya ini yang
tidak henti-henti-nya mengingatkan, agar saya mendukung perjuangan para
pemimpin dan rakyat Republik Islam Iran, dengan cara apapun yang bisa saya
upayakan. Maka selain ber-do’a dengan melantunkan firman-firman Allâh secara
intensif, saya juga ikut dalam perang narasi di media social, dan ini, suatu
artikel berjudul “islam”.
Sengaja saya menggunakan insial dan seluruh
huruf-nya dengan huruf kecil, untuk membedakan dengan “Islam” sebagai agama
yang konvensional, dan membuat kita kurang cerdas, dan terkungkung dalam aturan
yang sempit, kaku, dan tidak universal.
#nitasung
Desa Mengwitani, Bali, Jum'at Pon, 14 Dzul-Qa'idah1447 / 1 Mei 2926

Tidak ada komentar:
Posting Komentar