Kamis, 25 Desember 2025

HIJÃB, KHIMÃR, dan JILBÃB

Sebelum menyelami, menganalisis dan mensintesis makna ketiga kata berikut ini, yakni: HIJÃB (حِجَاب), KHIMÃR (خِمار), dan JILBÃB (جِلْبَاب) yang secara tradisi merujuk pada pakaian tubuh fisik perempuan, secara reflektif dan Qur'ani, maka kita perlu pijakan dan pegangan yang kuat di benak kita akan fungsi al-Qur'an ini sendiri, yaitu sebagai Hudallinnãs dan sebagai Syifã'ulinnãs.

Al-Qur'an adalah hudan li an-nãs; Artinya, al-Qur'an adalah petunjuk bagi semua dan setiap insãn, petunjuk bagi setiap individu, sebagaimana 'manual' bagi penggunaan dan pemeliharaan Diri kita masing-masing; Artinya, setiap kata, setiap frasa, setiap kalimat, bahkan setiap huruf dan tanda baca dimaksudkan sebagai 'cermin' diri kita sendiri.

Jika suatu ayat al-Qur'an menyebutkan kata 'an-nisã' apakah ayat itu berlaku bagi pembaca-nya yang laki-laki? Jika tidak, artinya hal ini membatalkan fungsi al-Qur'an sebagai Hudallinnãs.

Dan yang paling menentukan kesehatan holistik kita sebagai Manusia adalah keadaan JIWA kita. Jadi, jika Al-Qur'an adalah Syifã'ulinnãs, alias penyehat bagi manusia, maka pesan dalam setiap ayat al-Qur'an terutama ditujukan bagi jiwa kita. Jiwa kita, bathin kita, tidak memiliki jender atau jenis kelamin.

Dengan mem-fungsi-kan qalbu, yakni sebagai penjaga konteks, dan, konteks pemikiran dan perasaan adalah muatan haqiqat ayat2 al-Fãtihah, maka kita senantiasa dapat kembali ke kesadaran ilahiah, yang adalah juga kesadaran ekologis, sebagaimana frasa 'Rabb-al-ãlamin', yaitu Pemelihara alam.

Secara tradisi, hijãb, khimãr, dan jilbãb ini, adalah tentang 'pemisahan' atau 'pembatasan' antara perempuan dan lelaki, yang bukan muhrim.

Nah! Dengan konteks tersebut di atas, yakni al- Fãtihah, maka secara reflektif, lelaki pada Diri kita, pada Diri setiap insãn adalah ar-Rahmãn, dan perempuan adalah ar-Rãhïm. Sekarang jadi lebih mudah mengidentifikasi haqiqat hijãb, khimãr, dan jilbãb, sehingga makna mereka bersifat universal, inklusif, dan aplikatif, serta tentu saja, ekologis.


Sejauh ini, aku menemukan ada 6 ayat yang memuat kata hijãb (حِجَاب), ada 1 ayat yang memuat kata  khimãr (خِمار), dan 1 ayat yang memuat kata jilbãb (جِلْبَاب). Mereka adalah sebagai berikut:






Salah satu sifat dan nama Al-Qur'an adalah Al-MubĨn, artinya antara ayat-ayat yang memuat kata atau frasa yang sama, ada hubungan saling menjelaskan. Jika demikian, mungkin kita perlu mengkaji kedelapan ayat tersebut, dan melihat hubungan saling menjelaskan yang terjalin di antara mereka. Tentu saja kita perlu tetap mengingat, berpijak, dan berpegang pada konteks al-Fãtihah.


1.      QS. Al-A’Rãf/7:46

وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٌ​ۚ وَعَلَى الۡاَعۡرَافِ رِجَالٌ يَّعۡرِفُوۡنَ كُلًّاۢ بِسِيۡمٰٮهُمۡ​ ۚ وَنَادَوۡا اَصۡحٰبَ الۡجَـنَّةِ اَنۡ سَلٰمٌ عَلَيۡكُمۡ​ لَمۡ يَدۡخُلُوۡهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُوۡنَ

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan nereka) ada tabir dan di atas A'rāf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, "Salāmun 'alaikum" (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk).

Makna reflektif-nya:

Tempat tertinggi pada Diri kita adalah Qalbu, yang terletak di tengah-tengah Shudur (otak besar). Posisi Qalbu dalam susunan cakra, alias tubuh vegetative kita, adalah cakra ke-enam, yaitu cakra mata ketiga. Sedangkan yang membatasi antara penghuni surga dan neraka adalah cakra ke-lima, yaitu cakra tenggorokan. Ucapan “Salamun ‘alaikum” mengkodekan terjalinnya hubungan vertical dan hubungan horizontal dalam kehidupan kita.

Jadi, makna kata ‘hijãb’ di sini adalah cakra tenggorokan. Jika cakra tenggorokan kita tidak berfungsi, maka kita adalah penghuni neraka, sebaliknya, jika cakra tenggorokan kita berfungsi, maka kita adalah penghuni surga.

 

 

2.      QS. Al-Isra’/17:45

وَاِذَا قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ جَعَلۡنَا بَيۡنَكَ وَبَيۡنَ الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَةِ حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا

Dan apabila engkau (Muhammad) membaca Al-Qur`an, Kami adakan suatu dinding/penghalang yang tidak terlihat antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat…

Makna reflektif-nya:

Ke-muhammad-an kita adalah kemampuan untuk mempersepsikan Qalam Allah yang tersebar di Alam, dengan mem-fungsi-kan indera2, terutama pendengaran dan penglihatan, yaitu dengan persepsi yang dipimpin oleh Qalbu. Mereka yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, adalah mereka yang tidak mampu mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an, dalam makna mendengarkan dengan diikuti perenungan. Artinya, cakra ke-lima alias cakra tenggorokan mereka tidak berfungsi.

Jadi, makna kata ‘hijãb’ di sini adalah cakra tenggorokan. Mereka dengan cakra tenggorokan yang tidak berfungsi, tidak akan beriman kepada kehidupan akhirat.

 

3.      QS. Maryam/19:17

فَٱتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَآ إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

… lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.

Makna reflektif-nya:

Maryam pada Diri kita adalah keseimbangan antara maskulinitas dan femininitas kita. Keluarga kita, terutama adalah orangtua (yang memperanakkan) dan anak (yang diperanakkan). Orangtua pada diri Kita adalah pikiran, adat-istiadat, dan tradisi. Sedangkan anak adalah perasaan, keinginan, gagasan, dan perbuatan. Orangtua adalah masa lalu, dan anak adalah masa depan. Ketika keluarga di-nol-kan, atau dengan perkataan lain, jika pikiran dan perasaan kita seimbang, maka yang ada adalah kesadaran. Ruh Allah atau Jibril adalah kesadaran tertinggi kita. Pikiran kita bersumber pada kepala (cakra ke-6), sedangkan perasaan kita bersumber pada jantung~hati (cakra ke-4), maka titik nol, alias titik antara-nya adalah pada cakra tenggorokan (cakra ke-5).

Jadi, makna kata ‘hijãb’ di sini adalah cakra tenggorokan. Maryam memasang tabir yang melindunginya dari keluarga-nya, dari pikiran dan perasaannya, sehingga kesadarannya terjaga dan mencapai tempat tertinggi, Ruh Allah. 

 

4.      QS. Al-Ahzãb/33:53

وَاِذَا سَاَ لۡتُمُوۡهُنَّ مَتَاعًا فَسۡـَٔـــلُوۡهُنَّ مِنۡ وَّرَآءِ حِجَابٍ ؕ ذٰ لِكُمۡ اَطۡهَرُ لِقُلُوۡبِكُمۡ وَقُلُوۡبِهِنَّ ؕ وَمَا كَانَ لَـكُمۡ اَنۡ تُؤۡذُوۡا رَسُوۡلَ اللّٰهِ وَلَاۤ اَنۡ تَـنۡكِحُوۡۤا اَزۡوَاجَهٗ مِنۡۢ بَعۡدِهٖۤ اَبَدًا ؕ اِنَّ ذٰ لِكُمۡ كَانَ عِنۡدَ اللّٰهِ عَظِيۡمًا

... Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelahnya (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.

Makna reflektif-nya:

Nabi pada Diri kita adalah kemampuan ber-nubuat, yaitu mengungkapkan prediksi atau visi/penglihatan dengan bicara (secara lisan maupun tulisan), prediksi yang muncul dari hasil pengamatan, atau membaca fenomena alam dan fenomena sosial. Jadi, istri-stri Nabi, adalah aspek feminin atau kerahiman yang menyertai nubuatan. Sedangkan ‘orang-orang yang meminta sesuatu’ adalah hasrat-hasrat duniawi yang ada di benak kita. Bagaimana ‘meminta kepada istri2 Nabi dari balik tabir?’ Nah, ini memerlukan perenungan mendalam, ber-monolog, dan seolah kita keluar dari Diri kita sendiri dan melihat ‘makhluq2’ di dalam Diri kita yang sedang ber-dialog dan ber-lakon. Sampai di sini, kita bisa melihat bahwa…

… yang dimaksud sebagai tabir adalah nilai-nilai yang dapat menjaga keharmonisan hubungan vertikal Langit dan Bumi, sekaligus keharmonisan hubungan horizontal dengan sesama makhluq ciptaan Allah. Dan, simpul antara hubungan vertikal dan hubungan horizontal adalah pada leher, atau lebih tepatnya pada cakra tenggorokan kita.

 

5.      QS. Shad/38:32

فَقَالَ إِنِّىٓ أَحْبَبْتُ حُبَّ ٱلْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّى حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِٱلْحِجَاب

… maka dia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai segala yang baik (kuda), yang membuat aku ingat akan (kebesaran) Tuhanku, sampai matahari terbenam.”

Makna reflektif-nya:

Sulaiman adalah simbol teknologi. Ke-sulaiman-an pada Diri kita adalah kecendrungan kita untuk menyukai dan mencintai teknologi. Kuda adalah kendaraan berkaki empat, sekarang beroda empat. Kendaraan kita yang sesungguhnya adalah kedua tungkai kita. Kata ‘hijãb’ di ayat ini merujuk pada ‘terbenamnya matahari’… Sulaiman harus berhenti mengagumi kuda2-nya untuk beribadah maghrib. Pada ayat selanjutnya, Sulaiman kembali mengagumi kuda2-nya sambil mengelus tungkai2 dan leher-nya. Pada ayat berikutnya lagi, dikatakan bahwa Allah menguji Sulaiman, dan Sulaiman dibuat terjatuh pada kursinya karena tubuh yang lemah, dan kemudian dia bertobat.

Kecintaan kita pada teknologi kendaraan harus dibatasi oleh kesadaran kita akan kendaraan kita yang sesungguhnya, yaitu kedua tungkai kita untuk berjalankaki. Di saat kita berjalankaki, tubuh kita tegap, susunan tegak, dari ujung tulang ekor (cakra terendah) hingga di atas ujung kepala (cakra mahkota) menjadi aktif dan berfungsi.

Jadi, refleksi kata ‘hijãb’ di ayat ini adalah ketujuh cakra, susunan tegak, alias kesadaran Jiwa.

 

6.      QS. Fushshilat/41:5

وَقَالُوۡا قُلُوۡبُنَا فِىۡۤ اَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدۡعُوۡنَاۤ اِلَيۡهِ وَفِىۡۤ اٰذَانِنَا وَقۡرٌ وَّمِنۡۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٌ فَاعۡمَلۡ اِنَّنَا عٰمِلُوۡنَ

Dan mereka berkata, "Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya dan telinga kami sudah tersumbat, dan di antara kami dan engkau ada dinding, karena itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami)."

Makna reflektif-nya:

Makna ‘hati kami’ adalah ‘Qalbu’ yang ada di posisi kepala, tepatnya di tengah otak besar alias gudang data/informasi. Qalbu adalah penjaga konteks. Hati yang tertutup artinya Qalbu yang tidak berfungsi sebagai penjaga konteks. Frasa ‘telinga yang tersumbat’ menunjukkan secara jelas, bahwa fungsi cakra tenggorokan tidak berfungsi, sehingga seolah ada dinding pemisah antara penyeru (Allah, rasul, nabi) dengan mereka ini.

Jadi, makna kata ‘hijãb’ pada ayat ini adalah kondisi cakra tenggorokan yang tidak berfungsi.

 

7.      QS. Al-Nur/24:31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan jangan menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya..."

Makna reflektif-nya:

Jika ayat tersebut merujukkan kata خُمُر sebagai kain penutup, khususnya kepala, leher, dan dada perempuan, agar tidak menampakkan perhiasan, menjaga pandangan, dan memelihara kemaluan… maka hal ini mengimplikasikan tentang menjaga fungsi tiga cakra, yaitu cakra ke-6 (cakra mata ketiga), cakra ke-5 (cakra tenggorokan), dan cakra ke-4 (cakra jantung hati).

Kata ‘perhiasan’ yang dimaksud adalah manfaat lain dari leher, yaitu sebagai tempat kalung emas atau kalung mutiara. Makna-nya, bahwa bicara kita, harusnya bernilai emas dan/atau mutiara.=, yaitu yang mengajak ke kebaikan yang haq, sesuai konteks yang dijaga oleh Qalbu, yaitu Rabb-al-Ãlamin (Pemelihara Alam).

Dengan berfungsi-nya ketiga cakra tersebut, maka dengan sendirinya, cakra terendah, yaitu cakra ke-1 (cakra seks) juga terpelihara.

Jadi, Jadi, makna kata ‘khumur’ (bentuk jamak dari ‘khimãr’) pada ayat ini adalah berfungsinya ketiga cakra, yaitu cakra mata ketiga, cakra tenggorokan, dan cakra jantung hati.

 

8.      QS. Al-Ahzab/33:59

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

"Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin supaya mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Makna reflektif-nya:

"Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin supaya mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Makna reflektif-nya:

Istri2 dan anak2 perempuan Nabi, maupun istri2 orang beriman pada Diri kita, adalah aspek femininitas yang bersifat Rahim, yaitu yang memelihara dan menumbuhkan.

Sedangkan frasa ‘kain penutup seluruh tubuh perempuan’ adalah konteks Rabb-al-Ãlamin (Pemelihara Alam) yang menjadi benang merah pemersatu sekaligus penegak dari seluruh cakra yang posisinya bersesuaian dengan tubuh fisik, yaitu cakra ke-1 (cakra sex) hingga cakra ke-6 (cakra mata ketiga), sehingga dengan tegaknya susunan keenam cakra ini, maka tersambunglah ke cakra ke-7, yaitu cakra mahkota yang berada di atas kepala.

Kondisi tegaknya alias berfungsinya susunan cakra ini, membuat pihak-pihak yang akan menyerang dengan kebathilan, akan merasakan bahwa mereka harus mundur, tidak boleh dan tidak bisa mengganggu.

Dan Allah ‘ghafϋr’ dan ‘rahïm’, maknanya adalah bahwa dengan menghidupkan Allah, yaitu memfungsikan Qalbu, maka Allah akan memberi ‘maghfirah2’ alias bukaan2 atau penyingkapan tabir2 rahasia dan misteri kehidupan, dan dengan ‘maghfirah2’ ini, kita dapat menjalani kehidupan kita sesuai fithrah Allah, dan Bahagia.

Jadi, kata ‘jalabïb’ (bentuk jamak dari ‘jilbãb’) bermakna susunan tegak ketujuh cakra yang tegak dan berfungsi. Inilah Jiwa yang hidup.


Demikianlah makna-makna reflektif dari ‘hijãb’ (حِجَاب), ‘khimãr’ (خِمار), dan ‘jilbãb’ (جِلْبَاب) yang muncul dari proses berfikir alias bertafakkur, dan berenung. Teman-teman pembaca tidak harus mengikuti hasil perenungan ini, karena kalian juga mampu merenungkan sendiri kebenaran ayat2 suci al-Qur'an. Potensi ini ada pada setiap Diri insãn. Insya'Allah. 

 

Al-Haqqu min Rabb.

 

Mengwitani, Bali, Senin, 9 Rajab 1447 / 29 Desember 2025

 

#nitasung

#refleksi

#perenungan

#iqra

#iqrakitaabaka

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar